Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman budaya. Di Indonesia hidup berbagai macam suku bangsa dengan keunikan nya masing masing. Suku suku bangsa tersebut tersebar di berbagai pulau di Indonesia antara lain: pulau Sumatra, pulau Kalimantan, pulau Sulawesi, pulau Nusatenggara, pula Bali, pulau Jawa dan masih banyak pulau pulau lain.

5 desa unik di Indonesia

5 desa unik di Indonesia. image [source]

Semua suka bangsa tersebut memiliki adat istiadat, serta kebudayaan yang berbeda satu sama lain. adat adat kebiasaan mereka itu unik dan menambah kekayaan budaya bangsa Indonesia yang beraneka ragam tersebut. Keunikan budaya suku-suku bangsa yang ada di Indonesia tersebut bisa berupa: cara berpakaian, ritual kebudayaan, bentuk bangunan rumah dan masih banyak aspek kebudayaan lainnya. Berikut ini kami sajikan 5 desa unik di Indonesia.

1. Desa Panglipuran.

Desa Penglipuran ini merupakan desa yang menjadi kunjungan wisata pulau Bali. Nama Panglipuran sendiri berasal dari kata pangeling pura yang berarti tempat suci untuk mengingat para leluhur. Desa Panglipuran ini sudah ada sejak 700 tahun yang lalu. Letaknya 45 km dari Denpasar Bali.Keunikan dari desa Panglipuran ini adalah salah satunya, masih mempertahankan adat selama ratusan tahun. Meskipun gempuran gaya hidup modern sangat deras menerjang Bali, namun desa adat Panglipuran ini masih mampu mempertahankan budayanya. Keunikan yang ke dua, desa Panglipuran ini tertata rapi. Tatanan desa di bagi menjadi 3 ruang menurut tingkatan kesuciannya. Ketiga ruang tersebut adalah: utama, madya dan nista. Posisi bangunan tersebut membujur searah garis gunung di utara dan laut di selatan. Di tengah tengah desa ada jalan lurus berundak. Jalan tersebut berfungsi sebagai poros desa. di bagian ruang utama terdapar bangunan berupa pura.

Desa Panglipuran

Desa Panglipuran. image [source]

Zona utama ini merupakan ruang yang di peruntukkan bagi para dewa. Di zona madya terdapat 74 kavling perumahan yang di tinggali penduduk desa Panglipuran tersebut. Zona madya ini memang di peruntukkan bagi ruang manusia. Kavling kavling yang di tinggali ini berupa bangunan dengan 800 sampai 900 meter persegi memanjang dari barat ke timur. Bagian paling selatan dari desa Panglipuran tersebut adalah nista mandala. Di nista mandala ini terdapat bangunan makam. Ruang nista mandala merupakan ruang bagi manusia yang telah meninggal. Rumah-rumah di desa panglipuran ini memiliki bangunan yang sama semua bentuknya. 40 % bangunan di desa tersebut terbuat dari bambu.

2. Desa Badui

Suku Badui merupakan suku terisolir yang ada di kabupaten Lebak, Banten Jawa Barat. Populasi suku Badui ini antara 5000 sampai 8000 orang. Mereka menutup diri dari kehidupan luar. Kata Badui sendiri sebetulnya merupakan sebutan yang diberikan oleh pihak luar. Meraka sendiri lebih suka menyebut dirinya orang Kanekes. Lokasi desa Badui in sendiri berada di kaki bukit Kendeng di desa Kanekes kecamatan Leuwidamar. Suku Badui mengasingkan diri hidup mandiri tidak mengharapkan bantuan dari luar. Mereka menutup diri untuk mencegah masuknya budaya dari luar. Mereka berpikir dengan begitu budaya mereka akan lestari.

Desa Badui

Desa Badui. image [source]

Mereka menjaga kelestarian lingkungan. Air sungai dijaga tetap jernih. Mereka sampai mandi dan mencuci tanpa menggunakan bahan kimia sedikitpun. Meraka menjaga kelestarian lingkungan dengan tujuan supaya panen mereka tetap melimpah. Dengan alam yang terjaga kelestariannya tersebut, mereka dapat makan dari alam sekitar dan tidak membutuhkan barang barang dari luar. Rumah-rumah yang dibangun oleh suku Badui pun cukup unik. Kalau pondasi rumah di daerah lain umumnya dibuat dengan menggli tanah, suku Badui hanya meletakkan di atas permukaan tanah. Begitu pula jika tanah yang akan di bangun todak rata, maka meraka tidak mau meratakan tanah. Yang mereka lakukan adalah menyesuaikan pondasi rumah mereka sesuai permukaan tanah. Ketila mau memakai kayu untuk membuat bangunan pun, mereka hanya mengambil kayu-kayu yang telah mati. Mereka tidak mau menebang pohon hidup. Suku Badui menerima interaksi dari orang luar. Namun mereka menolak semua bentuk teknologi yang mengubah kebudayaan mereka.

3. Desa Trunyan

Desa Trunyan merupakan satu desa unik lagi yang ada di Bali. Desa Trunyan ini terletak di sebelah utara danau Batur. Posisi desa Trunyan ini juga dekat dengan gunung Batur. Yaitu salah satu gunung yang menjadi favorit para pendaki. Salah satu keunikan di desa Trunyan ini adalah pada proses pemakaman orang yang sudah meninggal. Jika di daerah lain, proses pemakaman pada orang yang sudah meninggal adalah dengan cara dikubur atau dibakar, di desa Trunyan ini mayat hanya diletakkan di tempat khusus saja. Tempat khusus untuk meletakkan orang yang sudah meninggal ini disebut dengan Seme Wayah.

Desa Trunyan

Desa Trunyan. image [source]

Untuk mencapai Seme Wayah ini ada 2 jalur, yaitu jakur darat dan jalur laut. Jika melewati jalur darat diperlukan waktu 45 menit. Jika melalui jalur danau hanya akan memakan waktu 15 menit. Jalur danau ini dilalui dengan naik kapal boat. Disana ada paket sewa kapal beserta pemandu wisatanya. Begitu sampai di Seme Wayah, kita akan disambut dengan cekungan berundak undakan dan disampingnya ada tengkorak manusia yang dijajar-jajar. Di Seme Wayah tersebut ada pohon besar yang disebut Taru Menyan yang berukuran besar. Taru artinya pohon dan Menyan artinya wangi. Pohon inilah yang menetralisir bau busuk dari mayat. Sehingga mskipun mayat hanya digeletakkan, tidak tercium bau busuk. Jika masuk lebih dalam ke Seme Wayah, anda akan melihat tulang tulang manusia. Jika beruntung akan akan melihat mayat manusia yang masih utuh, baru saja dimakamkan. Agar terhindar dari gangguan binatang buas, mayat mayat tersebut dilindungi dengan bambu.

4. Desa Kete Kesu

Desa Kete Kesu merupakan sebuah desa adat yang ada di Tana Toraja. Letak desa ini adalah 4 km di bagian tenggara Rantepao. Di desa Kete Kesu ini adat istiadat dari jaman ratusan tahun yang lalu masih dijaga kelestariannnya. Struktur desa Kete Kesu ini berupa padang rumput padi yang mengelilingi rumah adat yang disebut dengan Tongkonan. Di dalam Kete Kesu ini terdapat kubur batu yang berusia lebih 500 tahun. Kubur batu tersebut berisi tulang belulang orang orang yang telah meninggal. Kubur baru tersebut di pakai untuk pemakaman. Bentuknya menyerupai perahu dan diletakkan menggantung di perbukitan.

Desa Kete Kesu

Desa Kete Kesu. image [source]

Di desa Kete Kesu ini terdapat 6 rumah adat. Di perkitakan rumah adat ini berumur lebih dari 300 tahun. Tongkonan-Tongkonan tersebut dikelilingi 12 lumbng padi. Kete Kesu ini mempunyai tanah yang di pakai untuk upacara adat. Di tanah yang dipakai untuk upacara tersebut, ada 20 patung batu raksasa (Menhir). Kete Kesu ini di huni oleh 20 keluarga.

5. Desa Wae Rebo.

Merupakan sebuah desa terpencil dan misterius di kabupaten Manggarai Nusatenggara Timur. Dalam satu desa ini hanya ada 7 rumah yang disebut dengan Mbaru Niang. Menurut legenda desa mereka berasal dari Minangkabau. Desa Wae Rebo ini terletak di perbukitan. Jarak antara desa Wae Rebo dengan desa lain cukup jauh. Diperlukan waktu selama 4 jam jalan kaki untuk menuju desa lain. Bangunan rumah yang ada di desa Wae Rebo ini juga cukup unik. Rumah rumah di desa tersebut bentuknya kerucut menjulang tinggi. Rumah rumah kerucut tersebut memiliki pintu dengan bentuk setengah lingkaran. Rumah tersebut disebut dengan Mbaru Niang. Rumah di desa Wae Rebo ini cukup besar. Diameternya mencapai 11 hingga 15 meter. Biasanya Mbaru Niang bisa diisi hingga 8 keluarga.

Desa Wae Rebo

Desa Wae Rebo. image [source]

Ada kepercayaan di desa Wae Rebo ini, bahwa tidak boleh dibangun rumah baru lagi. Jika ada pertambahan keluarga dan tidak muat lagi, maka orang baru tersebut bisa membuat rumah di sekitar desa atau meninggalkan desa tersebut. Ada syarat bagi orang yang mau membangun rumah di sekitar desa tersebut, yaitu bentuk rumah tidak boleh sama dengan rumah yang ada di desa Wae Rebo ini. Untuk menuju desa ini ada diharuskan berjalan kaki selama 4 jam. Penyebabnya adalah deesa Wae Rebo ini berada di tengah tengah gunung. Meskipun terpencil dan ada di pedalaman, desa Wae Rebo terkenal di antara para turis mancanegara. Ketika anda berkunjung kesana anda akan disambut ramah oleh penduduk Wae Rebo. Mereka telah terbiasa dikunjungi wisatawan dari berbagai negara.

No more articles